BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Infark
Miokard adalah penyumbatan sebagian atau lebih arteri koroner (dikenal juga
seranggan jantung), (Holloway, 2003). Infark Miokard adalah rusaknya jaringan
jantung akibat supllai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah ke
koroner berkurang, (Brunner & Sudarth, 2002).
Infark
mioakard adalah suatu keadan ketidakseimbangan antara suplai & kebutuhan
oksigen miokard sehingga jaringan miokard mengalami kematian. Infark
menyebabkan kematian jaringan yang ireversibel. Sebesar 80-90% kasus MCI
disertai adanya trombus, dan berdasarkan penelitian lepasnya trombus terjadi
pada jam 6-siang hari. Infark tidak statis dan dapat berkembang secara
progresif.
MCI
apabila tidak segera di tangani atau dirawat dengan cepat dan tepat dapat
menimbulkan komplikasi seperti CHF, disritmia, syok kardiogenik yang dapat
menyebabkan kematian, dan apabila MCI sembuh akan terbentuk jaringan parut yang
menggantikan sel-sel miokardium yang mati, apabila jaringan parut yang cukup
luas maka kontraktilitas jantung menurun secara permanent, jaringan parut
tersebut lemah sehingga terjadi ruptur miokardium atau anurisma, maka
diperlukan tindakan medis dan tindakan keperawatan yang cepat dan tepat untuk
mencegah komplikasi yang tidak diinginkan.
Hal
ini dapat dicapai melalui pelayanan maupun perawatan yang cepat dan tepat untuk
memberikan pelayanan cepat dan tepat diperlukan pengetahuan, keterampilan yang
khusus dalam mengkaji, dan mengevaluasi status kesehatan klien dan diwujudkan
dengan pemberian asuhan keperawatan tanpa melupakan usaha promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif. Peran Oksigen pada Miokard :
·
Dibutuhkan pada saat
aktivitas preload & afterload.
·
Kontraktilitas miokard
·
Diperlukan jantung
untuk berdenyut.
·
Kelelahan & stres
emosional meningkatkan denyut jantung.
Serangan
infark miokard biasanya akut, dengan rasa sakit seperti angina,tetapi tidak
seperti angina yang biasa, maka disini terdapat rasa penekanan yang luar biasa
pada dada atau perasaan akan datangnya kematian. Bila pasien sebelumnya pernah
mendapat serangan angina, maka ia tabu bahwa sesuatu yang berbeda dari serangan
angina sebelumnya sedang berlangsung. Juga, kebalikan dengan angina yang biasa,
infark miokard akut terjadi sewaktu pasien dalam keadaan istirahat, sering pada
jam-jam awal dipagi hari.
1.2
Rumusan
Masalah
a. Apa
yang dimaksud dengan infark miocard akut (IMA) ?
b. Apa
saja penyebab dan gejala IMA serta bagaimana proses terjadinya ?
c. Bagaimana cara penanganan kegawatan pada IMA
1.3
Tujuan
a.
Tujuan Umum
Dari penyusunan makalah ini diharapkan anggota kelompok dapat mengerti,
memahami dan memperoleh gambaran tentang penerapan asuhan keperawatan pada
klien Miocardium infraction (IMA) dengan
menggunakan proses keperawatan.
b.
Tujuan Khusus
Setelah
penulisan makalah ini, penulis mampu : Menjelaskan konsep dasar penyakit
Miocardium infraction dimulai dari pengertian, penyebab, patofisiologi,
manifestasi klinik, sampai dengan
penangan kegawatan IMA.
b. Melakukan pengkajian data pada klien dengan Miocardium infraction.
c. Merumuskan diagnosa keperawatan kepada klien dengan Miocardium infraction.
d. Menyusun rencana keperawatan pada klien dengan Miocardium infraction.
e. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan Miocardium infraction.
b. Melakukan pengkajian data pada klien dengan Miocardium infraction.
c. Merumuskan diagnosa keperawatan kepada klien dengan Miocardium infraction.
d. Menyusun rencana keperawatan pada klien dengan Miocardium infraction.
e. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan Miocardium infraction.
BAB II
PEMBAHASAN
TEORI
A.
Pengertian
Menurut Brunner & Sudarth, 2002 infark miokardium mengacu pada proses
rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran
darah koroner berkurang.
Menurut Suyono, 1999 infark miokard akut atau sering juga disebut akut
miokard infark adalah nekrosis miokard akibat aliran darah ke otot jantung
terganggu.
Infark mioakard adalah suatu keadan ketidakseimbangan antara suplai &
kebutuhan oksigen miokard sehingga jaringan miokard mengalami kematian. Infark menyebabkan kematian jaringan
yang ireversibel. Sebesar 80-90% kasus MCI disertai adanya trombus, dan
berdasarkan penelitian lepasnya trombus terjadi pada jam 6-siang hari. Infark
tidak statis dan dapat berkembang secara progresif.
B.
Etiologi
Etiologi infark miokard akut ini pada dasarnya adalah terjadi bila suplay oksigen yang tidak sesuai
dengan kebutuhan tidak tertangani dengan baik sehingga hal tersebut bisa menyebabkan
kematian daripada sel-sel jantung tersebut. Jadi karena adanya hal yang
menyebabkan gangguan dalam oksigenasi jantung.
Gangguan oksigenasi dapat terjadi karena beberapa faktor dan diantaranya
yaitu:
1. Berkurangnya daripada suplay oksigen ke miokard itu sendiri.
1. Berkurangnya daripada suplay oksigen ke miokard itu sendiri.
Penyebab dari berkurangnya suplay oksigen ini bisa karena :
1) Faktor pembuluh darah. Hal ini
berkaitan dengan kepatenan dari pembuluh darah sebagai jalan darah mencapai
sel-sel jantung. Beberapa hal yang bisa
mengganggu kepatenan pembuluh darah diantaranya yaitu karena spasme,
aterosklerosis, dan arteritis. Spasme pembuluh darah khususnya pembuluh darah
koroner ini bisa juga terjadi pada orang yang tidak memiliki riwayat penyakit
jantung sebelumnya, dan biasanya terkait dengan beberapa hal juga dan diantara
hal tersebut adalah mengkonsumsi obat-obatan tertentu, stress emosional atau
nyeri, terpapar suhu dingin yang ekstrim, dan juga merokok.
2) Faktor Sirkulasi. Faktor
sirkulasi ini terkait dengan kelancaran peredaran darah dari jantung keseluruh
tubuh sampai kembali lagi ke jantung. Sehingga hal ini tidak akan lepas dari
faktor pemompaan dan juga pada volume darah yang dipompakan. Kondisi yang
menyebabkan adanya gangguan pada sirkulasi diantaranya adalah keadaan saat
hipotensi. Stenosis maupun insufisiensi yang terjadi pada katup-katup jantung
(aorta, mitral, atau trikuspidalis) menyebabkan menurunnya Cardiac Out Put
(COP). Penurunan Cardiac Out put yang diikuti oleh penurunan sirkulasi
menyebabkan bebarapa bagian tubuh tidak tersuplay darah dengan baik serta
adekuat, termasuk dalam hal ini otot jantung sendiri.
3) Faktor darah. Darah dalam hal ini
merupakan pengangkut oksigen menuju ke seluruh bagian tubuh. Jika daya angkut
darah berkurang, maka sebagus apapun jalan itu (pembuluh darah) dan pemompaan
jantung maka hal tersebut tidak akan cukup membantu. Hal-hal yang bisa
menyebabkan terganggunya daya angkut darah ini diantaranya yaitu antara lain
keadaan anemia, hipoksemia, dan juga polisitemia.
2. Meningkatnya
kebutuhan oksigen tubuh.
Pada orang normal meningkatnya kebutuhan oksigen mampu
dikompensasi dengan baik yaitu dengan meningkatkan denyut jantung untuk meningkatkan cardiac out put. Akan tetapi jika orang tersebut
telah mengidap penyakit jantung, maka mekanisme kompensasi ini justru pada
akhirnya makin memperberat kondisinya karena hal tersebut otomatis akan membuat
kebutuhan oksigen semakin meningkat, sedangkan dari suplai oksigen itu sendiri
tidak bertambah.
Oleh karena itu segala aktivitas yang menyebabkan
meningkatnya kebutuhan oksigen akan memicu terjadinya infark miokard ini.
Aktifitas yang memicu terjadinya akut miokard infark diantaranya yaitu
aktifitas yang berlebihan, emosi, makan terlalu banyak dan lain-lain.
Hipertropi miokard ini bisa memicu terjadinya infark karena semakin banyak sel
yang harus disuplay oksigen, sedangkan asupan oksigen itu sendiri menurun
akibat dari pemompaan yang tidak efektif.
C. Manifestasi Klinik
1. Nyeri Dada
Mayoritas
pasien AMI (90%) datang dengan keluhan nyeri dada. Nyeri dada yang
tiba-tiba dan berlangsung terus menerus, dimana terletak di bawah bagian
sternum dan perut atas. Rasa nyeri yang tajam dan berat biasanya menyebar ke
bahu dan lengan kiri. Nyeri sering disertai dengan napas pendek, pucat,
berkeringat dingin, pusing dan sakit kepala ringan, mual, muntah dan perasaan
takut. Keluhan yang khas adalah nyeri dada retrosternum, seperti diremas-remas
atau tertekan. Perbedaan dengan nyeri pada angina adalah nyeri pada AMI
lebih panjang yaitu minimal 30 menit, sedangkan pada angina kurang dari itu.
Disamping itu pada angina biasanya nyeri akan hilang dengan istirahat akan
tetapi pada infark tidak.
Meskipun AMI memiliki ciri nyeri yang khas yaitu menjalar ke lengan kiri,
bahu, leher sampai ke epigastrium, akan tetapi pada orang tertentu nyeri yang
terasa hanya sedikit. Hal
tersebut biasanya terjadi pada manula, atau penderita DM berkaitan dengan
neuropathy.
2. Sesak nafas
Sesak nafas bisa disebabkan oleh peningkatan mendadak tekanan akhir
diastolik ventrikel kiri, disamping itu perasaan cemas bisa menimbulkan
hiperventilas. Pada infark yang tanpa gejala nyeri dan sesak nafas merupakan
tanda adanya disfungsi ventrikel kiri yang bermakna.
3. Gejala lain
Tachycardia, kulit yang pucat,
dingin dan hipertensi ditemukan pada kasus yang relativ lebih berat,
kadang-kadang ditemukan pulsasi
diskinetik yang tampak atau teraba didinding dada AMI anterior.
D. Patofisiologi
E. Penanganan Kegawatan Pada IMA
1. Pemeriksaan Penunjang
Penegakan
diagnosa serangan jantung berdasarkan gejala, riwayat kesehatan prbadi dan keluarga,
serta hasil test diagnostic.
a) EKG (Electrocardiogram)
Pada EKG 12 lead, jaringan
iskemik tetapi masih berfungsi akan menmghasilkan perubahan gelombang T,
menyebabkan inervasi saat aliran listrik diarahkan menjauh dari jaringan iskemik, lebih serius
lagi, jaringan iskemik akan mengubah segmen ST menyebabkan depresi ST. Pada
infark, miokard yang mati tidak
mengkonduksi listrik dan gagal untuk repolarisasi secara normal,
mengakibatkan elevasi segmen ST. Saat nekrosis terbentuk, dengan penyembuhan
cincin iskemik disekitar area nekrotik, gelombang Q terbentuk. Area nekrotik
adalah jaringan parut yang tak aktif secara elektrikal, tetapi zona nekrotik
akan menggambarkan perubahan gelombang T saat iskemik terjasi lagi. Pada awal
infark miokard, elevasi ST disertai dengan gelombang T tinggi. Selama
berjam-jam atau berhari-hari berikutnya, gelombang T membalik. Sesuai dengan
umur infark miokard, gelombang Q menetap dan segmen ST kembali normal.
Gambaran
spesifik pada rekaman EKGDaerah infark Perubahan
EKG
|
Daerah infark
|
Perubahan EKG
|
|
Anterior
|
Elevasi segmen ST
pada lead V3 -V4, perubahan resiprokal (depresi ST) pada lead II, III, aVF.
|
|
Inferior
|
Elevasi segmen T pada
lead II, III, aVF, perubahan resiprokal (depresi ST) V1 – V6, I, aVL.
|
|
Lateral
|
Elevasi segmen ST
pada I, aVL, V5 – V6.
|
|
Posterior
|
Perubahan resiprokal (depresi
ST) pada II, III, aVF, terutama gelombang R pada V1 – V2.
|
|
Ventrikel kanan
|
Perubahan gambaran
dinding inferior
|
b) Test Darah
Selama
serangan, sel-sel otot jantung mati dan pecah sehingga protein-protein tertentu keluar masuk aliran darah.
1) LDH (Laktat Dehidrogenisasi)
terjadi pada tahap lanjut infark miokard yaitu setelah 24 jam kemudian mencapai
puncak dalam 3-6 hari. Masih dapat
dideteksi sampai dengan 2 minggu.Iso enzim LDH lebih spesifik dibandingkan
CPK-MB akan tetapi penggunaan klinisnya masih kalah akurat dengan nilai
Troponin, terutama Troponin T. Seperti yang kita ketahui bahwa ternyata
isoenzim CPK-MB maupun LDH selain ditemukan pada otot jantung juga bisa
ditemukan pada otot skeletal.
2) Troponin T & I merupakan protein merupakan tanda
paling spesifik cedera otot jantung,
terutama Troponin T (TnT)Tn T sudah terdeteksi 3-4 jam pasca kerusakan
miokard dan masih tetap tinggi dalam serum selama 1-3 minggu.Pengukuran
serial enzim jantung diukur setiap selama tiga hari pertama; peningkatan
bermakna jika nilainya 2 kali batas tertinggi nilai normal.
Pemeriksaan Enzim jantung :
1) CPK-MB/CPK
Isoenzim yang ditemukan pada otot
jantung meningkat antara 4-6 jam, memuncak dalam 12-24 jam, kembali normal
dalam 36-48 jam.
2) LDH/HBDH
Meningkat dalam 12-24 jam dam
memakan waktu lama untuk kembali normal
3) AST/SGOT
Meningkat (
kurang nyata/khusus )
terjadi dalam 6-12
jam, memuncak dalam 24 jam, kembali normal dalam 3 atau 4 hari
c) Oronary Angiography
Coronary angiography merupakan
pemeriksaan khusus dengan sinar x pada jantung dan pembuluh darah. Sering
dilakukan selama serangan untuk menemukan letak sumbatan pada arteri koroner.
Dokter memasukan kateter melalui arteri pada lengan atau paha menujua jantung.
Prosedur ini dinamakan kateterisasi jantung, yang merupakan bagian dari
angiografi koroner Zat kontras yang terlihat melalui sinar x diinjeksikan
melalui ujung kateter pada aliran darah. Zat kontras itu memingkinkan dokter dapat mempelajari aliran
darah yang melewati pembuluh darah dan jantung Jika ditemukan sumbatan,
tindakan lain yang dinamakan
angioplasty, dpat dilakukan untuk memulihkan aliran darah pada arteri
tersebut. Kadang-kadang akan ditempatkan
stent (pipa kecil yang berpori) dalam arteri untuk menjaga arteri tetap
terbuka.
2. Penatalaksanaan
Tujuan dari penanganan pada
infark miokard adalah menghentikan perkembangan serangan jantung, menurunkan
beban kerja jantung (memberikan kesempatan untuk penyembuhan) dan mencegah
komplikasi lebih lanjut.Berikut ini adalah penanganan yang dilakukan pada
pasien dengan AMI :
a)
Berikan oksigen
meskipun kadar oksigen darah normal. Persediaan oksigen yang melimpah untuk
jaringan, dapat menurunkan beban kerja jantung. Oksigen yang diberikan 5-6 L
/menit melalu binasal kanul.
b)
Pasang monitor
kontinyu EKG segera, karena aritmia yang mematikan dapat terjadi dalam jam-jam
pertama pasca serangan
c)
Pasien dalam
kondisi bedrest untuk menurunkan kerja jantung sehingga mencegah kerusakan otot
jantung lebih lanjut. Mengistirahatkan jantung berarti memberikan kesempatan
kepada sel-selnya untuk memulihkan diri
d)
Pemasangan IV line
untuk memudahkan pemberan obat-obatan dan nutrisi yang diperlukan. Pada
awal-awal serangan pasien tidak diperbolehkan mendapatkan asupa nutrisi lewat
mulut karena akan meningkatkan kebutuhan tubuh erhadap oksigen sehingga bisa
membebani jantung.
e)
Pasien yang
dicurigai atau dinyatakan mengalami infark seharusnya mendapatkan aspirin
(antiplatelet) untuk mencegah pembekuan
darah. Sedangkan bagi pasien yang elergi terhadap aspirin dapat diganti dengan
clopidogrel.
f)
Nitroglycerin dapat
diberikan untuk menurunkan beban kerja
jantung dan memperbaiki aliran darah yang melalui arteri koroner. Nitrogliserin
juga dapat membedakan apakah ia Infark atau Angina, pada infark biasanya nyeri
tidak hilang dengan pemberian nitrogliserin.
g)
Morphin merupakan
antinyeri narkotik paling poten, akan tetapi sangat mendepresi aktivitas
pernafasan, sehingga tdak boleh digunakan pada pasien dengan riwayat gangguan
pernafasan. Sebagai gantinya maka digunakan petidin
h)
Pada prinsipnya
jika mendapatkan korban yang dicurigai mendapatkan serangan jantung, segera
hubungi 118 untuk mendapatkan pertolongan segera. Karena terlambat 1-2 menit
saa nyawa korban mungkin tidak terselamatkan lagi
Obat-obatan yang digunakan pada
pasien dengan AMI diantaranya:
a)
Obat-obatan
trombolitik
b)
Obat-obatan ini
ditujukan untuk memperbaiki kembali airan darah pembuluh darah koroner,
sehingga referfusi dapat mencegah kerusakan miokard lebih lanjut. Obat-obatan
ini digunakan untuk melarutkan bekuan darah yang menyumbat arteri koroner.
Waktu paling efektive pemberiannya adalah 1 jam stelah timbul gejal pertama dan
tidak boleh lebih dari 12 jam pasca serangan. Selain itu tidak boleh diberikan
pada pasien diatas 75 tahun Contohnya adalah streptokinase
c)
Beta Blocker
d)
Obat-obatan ini
menrunkan beban kerja jantung. Bisa juga digunakan untuk mengurangi nyeri dada
atau ketidaknyamanan dan juga mencegah serangan jantung tambahan. Beta bloker
juga bisa digunakan untuk memperbaiki
aritmia. Terdapat dua jenis yaitu cardioselective (metoprolol, atenolol, dan
acebutol) dan non-cardioselective (propanolol, pindolol, dan nadolol)
e)
Angiotensin-Converting
Enzyme (ACE) Inhibitors
Obat-obatan ini menurunkan
tekanan darah dan mengurangi cedera pada otot jantung. Obat ini juga dapat
digunakan untuk memperlambat kelemahan pada otot jantung. Misalnya captropil
f)
Obat-obatan
antikoagulan
Obat- obatan ini mengencerkan
darah dan mencegah pembentukan bekuan darah pada arteri. Missal: heparin dan
enoksaparin.
g)
Obat-obatan
Antiplatelet
Obat-obatan ini (misal aspirin
dan clopidogrel) menghentikan platelet untuk membentuk bekuan yang tidak
diinginkan.
Jika obat-obatan tidak mampu
menangani/menghentikan serangan jantung., maka dapat dilakukan tindakan medis,
yaitu antara lain
a)
Angioplasti
b)
Tindakan non-bedah
ini dapat dilakukan dengan membuka arteri koroner yang tersumbat oleh bekuan
darah. Selama angioplasty kateter dengan balon pada ujungnya dimasukan melalui
pembuluh darah menuju arteri koroner yang tersumbat. Kemudian balon dikembangkan
untuk mendorong plaq melawan dinding arteri. Melebarnya bagian dalam arteri
akan mengembalikan aliran darah.Pada angioplasti, dapat diletakan tabung kecil
(stent) dalam arteri yang tersumbat sehingga menjaganya tetap terbuka. Beberapa stent biasanya dilapisi obat-obatan
yang mencegah terjadinya bendungan ulang pada arteri.
c)
CABG (Coronary
Artery Bypass Grafting)
Merupakan
tindakan pembedahan dimana arteri atau vena diambil dari bagian tubuh lain
kemudian disambungkan untuk membentuk jalan pintas melewati arteri koroner yang
tersumbat. Sehingga menyediakan jalan baru untuk aliran darah yang menuju
sel-sel otot jantung.
Setelah pasien
kembali ke rumah maka penanganan tidak
berhenti, terdapat beberapa hal yang
perlu diperhatikan:Mematuhi manajemen terapi lanjutan dirumah baik berupa
obat-obatan maupn mengikuti program rehabilitasi. Melakukan upaya perubahan
gaya hidup sehat yang bertujuan untuk menurunkan kemungkinan kekambuhan,
misalnya antara lain: menghindari merokok, menurunkan BB, merubah dit, dan meningatkan
aktivitas fisik.
BAB III
PEMBAHASAN KASUS
A.
Kasus
Ny. Y dibawa ke RS Y dengan keluhan nyeri dada seperti terbakar pada dada
bagian tengah atau epigastrium. Dari
pengkajian perawat diperoleh data, GCS 13, bunyi nafas ronchi kanan dan kiri,
RR : 25 x/menit. Ny. Y mengatakan tidak nafsu makan dan sering terlihat tidak
menghabiskan makannya, BB : 45 Kg, TB : 170 cm, nampak kurus, pucat.
Dari pemeriksaan Laboratorium di dapatkan data : Troponin meningkat dari
normal, CK-CKMB juga meningkat , hasil EKG menunjukkan gelombang abnormal, GDS
: 90mg/dl. Dari data diatas klien didiagnosa medis menderita Infark Miokardiak
Akut (IMA)
B.
Pengkajian
Identitas
klien
Nama : Ny. Y
Jenis
kelamin :
perempuan
Umur
:
60 tahun
Alamat :
Jln. Rindu, Jakarta
Pendidikan
:
SMA
Pekerjaan
:
Ibu rumah tangga
Status
perkawinan :
Kawin
Agama
:
islam
Suku/bangsa :
betawi/Indonesia
Tanggal
masuk RS :
04/09/2014
Diagnois
medis :
infark miokardiak akut
No.
RM : ̶̶̶
Identitas
penanggung jawab
Nama :
Tn. Y
Jenis
kelamin :
Laki-laki
Umur :
62 tahun
Pekerjaan :
PNS
Alamat :
Jln. Rindu, jakarta
Hubungan
dengan klien : suami klien
C.
Analisa Data
DS :
·
Px mengeluh nyeri di
bagian dada tengah dan rasanya seperti terbakar, apabila bergerak nyerinya bertambah dan terasa sangat nyeri, dan lamanya
sekitar 15-20 menit.
·
Px mengatakan tidak
nafsu makan
·
Px sering terlihat
tidak menghabiskan makanannya
DO
:
·
Hasil EKG
menunjukkan gelombang abnormal
·
Dari pemeriksaan
lab. Didapatkan data Troponin dan CKMB meningkat
·
GDS : 90 mg/dl
·
Terdapat bunyi ronki
kanan dan kiri
·
GCS : 13
·
Px tampak kurus dan
pucat
·
TTV :
1. RR : 25 x/menit
2. Nadi : 125 x/menit
3. TD : 140/100 mmHg
4. Suhu : 35
i) BB : 45 kg
j) TB : 170 cm
|
No.
|
Data
|
Masalah
|
Etiologi
|
|
1.
2.
3.
|
DS
:
·
Px mengeluh nyeri dada
seperti terbakar pada dada bagian
tengah (epigastrium)
P
: klien mengatakan apabila bergerak nyerinya bertambah
Q
: klien mengatakan nyerinya terasa seperti terbakar
R
: klien mengatakan nyerinya di dada bagian tengah (epigastrium)
S
: skala nyeri klien 6
T
: klien mengatakan apabila nyeri datang lamanya sekitar15-20 menit
DO :
·
Hasil EKG menunjukkan
gelombang abnormal
·
Troponin meningkat
·
CKMB meningkat
·
N : 125 x/menit
·
RR : 25 x/m
·
T : 35
·
TD : 140/100 mmHg
DS
:
·
Px mengeluh nyeri dada
seperti terbakar pada dada bagian
tengah (epigastrium)
P
: klien mengatakan apabila bergerak nyerinya bertambah
Q
: klien mengatakan nyerinya terasa seperti terbakar
R
: klien mengatakan nyerinya di dada bagian tengah (epigastrium)
S
: skala nyeri klien 6
T
: klien mengatakan apabila nyeri datang lamanya sekitar15-20 menit
DO :
·
GCS : 13
·
Terdapat bunyi ronki
kanan dan kiri
·
Px tampak pucat
·
RR : 25 x/menit
·
N : 125 x/menit
·
TD : 140/100 mmHg
·
T : 35
·
BB : 45 kg
·
TB : 170 cm
DS
:
·
Px mengatakan tidak
nafsu makan
·
Px sering terlihat
tidak menghabiskan makanannya
DO :
·
Px tampak kurus dan
pucat
·
BB : 45 kg
·
TB : 170 cm
·
RR : 25 x/menit
·
N : 125 x/menit
·
TD : 140/100 mmHg
·
T : 35
|
Nyeri
akut
Intoleransi
aktivitas
Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
|
iskemia
miokard akibat sumbatan arteri koroner.
ketidakseimbangan
suplai oksigen miokard dengan kebutuhan tubuh
Asupan
makanan tidak adekuat, anoreksia
|
D. Prioritas Masalah
1. Nyeri akut b/d iskemia miokard akibat sumbatan arteri
koroner.
2. Intoleransi aktivitas b/d ketidakseimbangan suplai
oksigen miokard dengan kebutuhan tubuh.
3. Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
b/d Asupan makanan tidak adekuat, anoreksia
E.
Intervensi
|
No.
|
Hari / Tanggal
|
Diagnosa keperawatan
|
Perencanaan
|
||
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
|||
|
1.
2.
3.
|
|
Nyeri
akut b/d iskemia miokard akibat sumbatan arteri koroner.
DS
:
·
Px mengeluh nyeri dada
seperti terbakar pada dada bagian
tengah (epigastrium)
P
: klien mengatakan apabila bergerak nyerinya bertambah
Q
: klien mengatakan nyerinya terasa seperti terbakar
R
: klien mengatakan nyerinya di dada bagian tengah
S
: skala nyeri klien 6
T
: klien mengatakan apabila nyeri datang lamanya sekitar15-20 menit
DO :
·
Hasil EKG menunjukkan
gelombang abnormal
·
Troponin meningkat
·
CKMB meningkat
·
BB : 45 kg
·
TB : 170 cm
Intoleransi
aktivitas b/d ketidakseimbangan suplai oksigen miokard dengan kebutuhan
tubuh.
DS
:
·
Px mengeluh nyeri
dada seperti terbakar pada dada bagian
tengah (epigastrium)
P
: klien mengatakan apabila bergerak nyerinya bertambah
Q
: klien mengatakan nyerinya terasa seperti terbakar
R
: klien mengatakan nyerinya di dada bagian tengah
S
: skala nyeri klien 6
T
: klien mengatakan apabila nyeri datang lamanya sekitar15-20 menit
DO
:
·
GCS : 13
·
Terdapat bunyi ronki
kanan dan kiri
·
Px tampak pucat
·
RR : 25 x/menit
·
BB : 45 kg
·
TB : 170 cm
Perubahan nutris kurang
dari kebutuhan tubuh b/d Asupan makanan tidak adekuat, anoreksia.
DS
:
·
Px mengatakan tidak
nafsu makan
·
Px sering terlihat
tidak menghabiskan makanannya
DO :
·
Px tampak kurus dan
pucat
·
BB : 45 kg
·
TB : 170 cm
|
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x 24
jam diharapkan nyeri klien berkurang,
dengan kriteria hasil :
·
Klien tidak mengeluh nyeri
·
Troponin kembali normal
·
CKMB kembali normal
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x 24
jam diharapkan klien dapat menunjukan peningkatan toleransi aktivitas dengan
kriteria
hasil :
· frekuensi jantung/ irama dalam batas normal,
· RR
dalam batas normal,
· tidak adanya nyeri dada dalam rentang waktu selama
pemberian obat.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan
kebutuhan nutrisi terpenuhi
dengan Kriteria Hasil:
·
Menunjukkan
peningkatan berat badan, mencapai rentang yang diharapkan individu.
·
Nafsu makan klien membaik
·
Klien
menyatakan pemahaman tentang kebutuhan nutrisi.
|
1. Pantau nyeri (karakteristik, lokasi, intensitas,
durasi), catat setiap respon verbal/non verbal.
2. Berikan lingkungan yang tenang dan tunjukkan
perhatian yang tulus kepada klien.
3. Bantu melakukan teknik relaksasi (napas
dalam/perlahan, distraksi, visualisasi, bimbingan imajinasi)
1.
Catat/dokumentasi
frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum, selama, sesudah aktifitas
sesuai indikasi. Hubungkan dengan laporan nyeri dada/napas pendek.
2.
Tingkatkan
istirahat (tempat tidur/kursi). Batasi aktifitas pada dasar nyeri/respon
hemodinamik. Berikan aktifitas senggang yang tidak berat.
3.
Anjurkan
pasien menghindari peningkatan tekanan abdomen, contoh: mengejan saat
defekasi.
4.
Kolaborasi: dengan
tim medis; Rujuk ke program
rehabilitasi jantung.
1.
1.
Buat tujuan
berat badan minimum dan kebutuhan nutrisi harian.
2.
Beri makan sedikit tapi sering.
3.
Berikan
makanan kecil/mudah dikunyah. Batasi asupan kafein, contoh kopi, coklat,
cola.
4.
Berikan
perawatan mulut teratur, sering, termasuk minyak untuk bibir.
|
1. Mengiden
tifikasi derajat ketidak nyamanan dan menentukan tindak lanjut intervensi
yang akan dilakukan
2. Menurunkan rangsang eksternal yang dapat
memperburuk keadaan nyeri yang terjadi.
3. Membantu menurunkan persepsi-respon nyeri dengan
memanipulasi adaptasi fisiologis tubuh terhadap nyeri.
1.
Kecenderungan menentukan respon pasien terhadap aktifitas dan dapat
mengindikasikan penurunan oksigen miokardia yang memerlukan penurunan tingkat
aktifitas/kembali tirah baring, perubahan program obat, penggunaan oksigen
tambahan.
2.
Menurunkan kerja miokardia/konsumsi oksigen, menurunkan resiko
komplikasi (mis, perluasan IM).
3.
Aktifitas yang memerlukan menahan napas dan menunduk (manufer
valsava) dapat mengakibatkan bradikardi, juga menurunkan curah jantung, dan
takikardi.
4.
Memberikan dukungan/pengawasan tambahan
berlanjut dan partisipasi proses penyembuhan dan kesejahteraan.
1.
Malnutrisi adalah kondisi gangguan minat yang menyebabkan depresi,
agitasi dan mempengaruhi fungsi kognitif/pengambilan keputusan. Perbaikan
status nutrisi meningkatkan kemampuan berpikir dan kerja psikologis.
2.
Dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makan terlalu cepat.
3.
Makan besar dapat meningkatkan kerja miokardia dan menyebabkan
rangsang vagal mengakibatkan bradikardia/denyut ektopik.
Kafein adalah perangsang langsung pada jantung yang dapat meningkatkan
frekuensi jantung.
4.
Mencegah ketidaknyamanan karena mulut kering dan bibir pecah yang
disebabkan oleh pembatasan cairan.
|
F. Implementasi
|
No.
|
Hari / Tanggal
|
Pukul
|
No. Dx
|
Implementasi
|
Evaluasi tindakan
|
Paraf
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
1.
|
Jum’at,
05 september
2014
Jum’at,
05 september
2014
Jum’at,
05 september
2014
Sabtu,
06 september
2014
Sabtu,
06 september
2014
Sabtu,
06 september
2014
Minggu,
07 september
2014
Minggu,
07 september
2014
Minggu,
07 september
2014
|
08
: 00 WIB
11
: 30 WIB
17
: 00
WIB
08
: 00 WIB
11
: 30 WIB
17
: 00
WIB
08
: 00 WIB
11
: 30 WIB
17
: 00
WIB
|
I
II
III
I
II
III
I
II
III
|
1. Memantau nyeri (karakteristik, lokasi, intensitas,
durasi), catat setiap respon verbal/non verbal.
2. Memberikan lingkungan yang tenang dan tunjukkan
perhatian yang tulus kepada klien.
3. Membantu melakukan teknik relaksasi (napas
dalam/perlahan, distraksi, visualisasi, bimbingan imajinasi)
1.
Mencatat/dokumentasi frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum,
selama, sesudah aktifitas sesuai indikasi. Hubungkan dengan laporan nyeri
dada/napas pendek.
2.
Meningkatkan istirahat (tempat tidur/kursi). Batasi aktifitas pada dasar
nyeri/respon hemodinamik. Berikan aktifitas senggang yang tidak berat.
3.
Menganjurkan pasien menghindari peningkatan tekanan abdomen, contoh: mengejan
saat defekasi.
4.
Kolaborasi: dengan
tim medis; Rujuk ke program
rehabilitasi jantung.
1.
Membuat tujuan berat badan minimum dan kebutuhan nutrisi harian.
2.
Memberi makan sedikit tapi sering.
3.
Memberikan makanan kecil/mudah dikunyah. Batasi asupan kafein, contoh kopi,
coklat, cola.
4.
Memberikan perawatan mulut teratur, termasuk minyak untuk bibir.
1. Memantau nyeri (karakteristik, lokasi, intensitas,
durasi), catat setiap respon verbal/non verbal.
2. Memberikan lingkungan yang tenang dan tunjukkan
perhatian yang tulus kepada klien.
3. Membantu melakukan teknik relaksasi (napas
dalam/perlahan, distraksi, visualisasi, bimbingan imajinasi)
1. Mencatat/dokumentasi frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum,
selama, sesudah aktifitas sesuai indikasi. Hubungkan dengan laporan nyeri
dada/napas pendek.
2. Meningkatkan istirahat (tempat tidur/kursi). Batasi aktifitas pada dasar
nyeri/respon hemodinamik. Berikan aktifitas senggang yang tidak berat.
3. Menganjurkan pasien menghindari peningkatan tekanan abdomen, contoh: mengejan
saat defekasi.
4. Kolaborasi: dengan tim medis; Rujuk ke program rehabilitasi jantung.
1. Membuat tujuan berat badan minimum dan kebutuhan nutrisi harian.
2.
Memberi makan sedikit tapi sering.
3.
Memberikan makanan kecil/mudah dikunyah. Batasi asupan kafein, contoh kopi,
coklat, cola.
4.
Memberikan perawatan mulut teratur, termasuk minyak untuk bibir.
1. Memantau nyeri (karakteristik, lokasi, intensitas,
durasi), catat setiap respon verbal/non verbal.
2. Memberikan lingkungan yang tenang dan tunjukkan
perhatian yang tulus kepada klien.
3. Membantu melakukan teknik relaksasi (napas
dalam/perlahan, distraksi, visualisasi, bimbingan imajinasi)
1. Mencatat/dokumentasi frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum,
selama, sesudah aktifitas sesuai indikasi. Hubungkan dengan laporan nyeri
dada/napas pendek.
2. Meningkatkan istirahat (tempat tidur/kursi). Batasi aktifitas pada dasar
nyeri/respon hemodinamik. Berikan aktifitas senggang yang tidak berat.
3. Menganjurkan pasien menghindari peningkatan tekanan abdomen, contoh: mengejan
saat defekasi.
4. Kolaborasi: dengan tim medis; Rujuk ke program rehabilitasi jantung.
1. Membuat tujuan berat badan minimum dan kebutuhan nutrisi harian.
2.
Memberi makan sedikit tapi sering.
3.
Memberikan makanan kecil/mudah dikunyah. Batasi asupan kafein, contoh kopi,
coklat, cola.
Memberikan perawatan mulut teratur, termasuk minyak untuk bibir.
|
1.
Klien mengatakan
nyeri sedikit berkurang setelah dilakukan tindakan
1.
Klien mengatakan
sudah lebih nyaman saat beraktifitas
1.
Klien mengatakan nafsu makannya sedikit meningkat
1.
Klien mengatakan
nyeri lebih berkurang setelah dilakukan tindakan
1.
Klien mengatakan
sudah lebih nyaman saat beraktifitas
1.
Klien mengatakan nafsu makannya lebih baik
1.
Klien mengatakan
nyeri jauh lebih berkurang dibandingkan sebelumnya
1.
Klien mengatakan
sudah lebih nyaman saat beraktifitas
1.
Klien mengatakan makannya lebih banyak
|
|
G.
Evaluasi
|
No.
|
Hari/ tanggal
|
Pukul
|
No. Dx
|
Evaluasi
|
Paraf
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
a.
|
Jum’at,
05 september
2014
Jum’at,
05 september
2014
Jum’at,
05 september
2014
Sabtu,
06 september
2014
Sabtu,
06 september
2014
Sabtu,
06 september
2014
Minggu,
07 september
2014
Minggu,
07 september
2014
Minggu,
07 september
2014
|
08
: 00 WIB
11
: 30 WIB
17
: 00
WIB
08
: 00 WIB
11
: 30 WIB
17
: 00
WIB
08
: 00 WIB
11
: 30 WIB
17
: 00
WIB
|
I
II
III
I
II
III
I
II
III
|
S
:
· Klien
mengatakan nyeri sedikit berkurang setelah dilakukan tindakan
· Klien
mengatakan nyerinya dibagian dada tengah (epigastrium)
O
:
· Skala
nyeri 5
· Klien
tampak rileks dan dapat tidur atau istirahat dengan tenang
A
: Masalah teratasi sebagian
P
: Intervensi dilanjutkan
S
:
· Klien
mengatakan nyeri sedikit lebih berkurang setelah dilakukan tindakan
· Klien
mengatakan nyerinya dibagian dada tengah (epigastrium)
O
:
·
Skala nyeri 5
·
Klien tampak lebih rileks
saat melakukan aktifitas kecil
A
: Masalah teratasi sebagian
P
: Intervensi dilanjutkan
S
:
·
Klien mengatakan nafsu makannya sedikit meningkat
O
:
·
Klien masih tampak
belum bisa menghabiskan makanannya
·
Klien tampak pucat
A : Masalah teratasi sebagian
P
: Intervensi dilanjutkan
S
:
· Klien
mengatakan nyeri lebih berkurang setelah dilakukan tindakan
· Klien
mengatakan nyerinya dibagian dada tengah (epigastrium)
O
:
· Skala
nyeri 4
· Klien
tampak rileks dan dapat tidur atau istirahat dengan tenang
A
: Masalah teratasi sebagian
P
: Intervensi dilanjutkan
S
:
· Klien
mengatakan nyeri sedikit lebih berkurang setelah dilakukan tindakan
· Klien
mengatakan nyerinya dibagian dada tengah (epigastrium)
O
:
·
Skala nyeri 4
·
Klien tampak lebih
rileks saat melakukan aktifitas kecil
A
: Masalah teratasi sebagian
P
: Intervensi dilanjutkan
S
:
·
Klien mengatakan nafsu makannya sudah lebih baik
O
:
·
Klien masih tampak
belum bisa menghabiskan makanannya
·
Klien tampak pucat
A : Masalah teratasi sebagian
P
: Intervensi dilanjutkan
S
:
· Klien
mengatakan nyeri jauh lebih berkurang setelah dilakukan tindakan
· Klien
mengatakan tidak terasa sakit lagi saat bergerak
O
:
· Skala
nyeri 1
· Klien
tampak rileks dan dapat tidur atau istirahat dengan tenang
A
: Masalah teratasi sebagian
P
: Intervensi dilanjutkan
S
:
· Klien
mengatakan nyeri jauh lebih berkurang setelah dilakukan tindakan
· Klien
mengatakan tidak terasa sakit lagi saat bergerak
O
:
·
Skala nyeri 1
·
Klien tampak lebih
mudah saat melakukan aktifitas kecil
A
: Masalah teratasi sebagian
P
: Intervensi dilanjutkan
S
:
·
Klien mengatakan nafsu makannya sudah lebih meningkat
O
:
·
Klien masih tampak
belum bisa menghabiskan makanannya
·
Klien tidak tampak
pucat lagi
A : Masalah teratasi sebagian
P
: Intervensi dilanjutkan
|
|
Data Tambahan
1.
Pengkajian
Identitas klien
Jenis
kelamin :
perempuan
Alamat :
Jln. Rindu, Jakarta
Pendidikan
:
SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Status
perkawinan : Kawin
Agama
:
islam
Suku/bangsa :
betawi/Indonesia
Tanggal
masuk RS :
04/09/2014
Identitas
penanggung jawab
Nama :
Tn. Y
Jenis
kelamin :
Laki-laki
Umur :
62 tahun
Pekerjaan :
PNS
Alamat :
Jln. Rindu, jakarta
Hubungan
dengan klien : suami
klien
2.
Data
Nadi : 125 x/menit
TD : 140/100 mmHg
Suhu : 35
0 komentar:
Posting Komentar